<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6912150852758031258</id><updated>2011-08-19T21:08:14.996-07:00</updated><title type='text'>usamusic</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://usamusic.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>usamusic</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09311628297504215709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6912150852758031258.post-5479571769996252905</id><published>2011-08-17T20:06:00.001-07:00</published><updated>2011-08-17T20:06:26.430-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Musik Klasik sejak Musik Gregorian tahun 590</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Sejarah_Musik_Klasik_sejak_Musik_Gregorian_tahun_590"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Musik Klasik dimulai dengan penemuan Notasi Gregorian tehun 590 oleh  Paus Agung Gregori, berupa balok not dengan 4 garis, namun notasi belum  ada hitungannya. Paus Gregory semasa hidupnya telah mencatat lagu-lagu  Gereja dengan Notasi Gregorian tersebut. sebelum tahun 590 musik  mengalami kegelapan tidak ada peninggalan tertulis yang dapat dibaca.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=2" title="Sunting bagian: Notasi Gregorian Tahun 590"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Notasi_Gregorian_Tahun_590"&gt;Notasi Gregorian Tahun 590&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Notasi musik lahir pada tahun 590 yang disebut Notasi Gregorian, yang  ditemukan oleh Paus Agung Gregori, di mana sebelumnya musik mengalami  kegelapan tidak ada peninggalan tertulis. Pada masa hidupnya Paus  Gregori telah menyalin ratusan lagu-lagu Gereja dalam Notasi Gregorian  tersebut. Notasi ini memekai 4 garis sebagai balok not, tetapi belum ada  notasi iramanya (hitungan berdasarkan perasaan penyanyi. Di sini sifat  lagu masih sebagai lagu tunggal atau monofoni.Notasi gregorian biasanya  digunakan sebagai notasi untuk memainkan lagu gereja&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3" title="Sunting bagian: Musik Organum 1150-1400"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Organum_1150-1400"&gt;Musik Organum 1150-1400&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Pada awalnya orang menyanyi dengan nada yang sama, atau disebut  dengan organum, nada atas dinyanyikan oleh wanita atau anak-anak,  sedangkan nada rendah dinyanyikan oleh laki-laki. Di sini terjadi  susunan lagu berjarak oktaf, suara tinggi (wanita/anak-anak) dan suara  rendah (laki-laki).&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4" title="Sunting bagian: Musik Diafoni 1400-1600"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Diafoni_1400-1600"&gt;Musik Diafoni 1400-1600&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Ternyata tidak semua dapat mengikuti suara tinggi atau suara  rendah.Oleh sebab itu diputuskan untuk membuat suara yang kuart lebih  rendah mengikuti melodi, kuart tinggi maunpun kuart rendah, dan musik  yang demikian ini disebut musik diafoni (dia=dua, foni=suara).&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=5" title="Sunting bagian: Basso Ostinato Tahun 1600"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Basso_Ostinato_Tahun_1600"&gt;Basso Ostinato Tahun 1600&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Orang-orang Italia pada tahun sekitar 1600 menemukan apa yang disebut  Basso Ostinato atau Bass yang bergerak gendeng atau gila, berupa  rangkaian nada-nada yang bergerak selangkah demi selangkah ke bawah atau  ke atas, kemudian diulang pada rangkaian nada lain.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=6" title="Sunting bagian: Musik Polifoni Era Barok 1600-1750"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Polifoni_Era_Barok_1600-1750"&gt;Musik Polifoni Era Barok 1600-1750&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Ternyata suara yang mengikuti sama dengan melodi menjadi membosankan,  maka mulailah suara tidak bergerak secara sejajar, maka mulailah dengan  arah yang berlawanan. Komponis Giovani Perluigi da Palestrina  (1515-1594) adalah perintis tentang hal ini, dan disusun teori mengenai  musik melodi banyak (polifoni), sehingga setiap nada atau titik  (punctus=point) bergerak secara mandiri atau berlawanan (counter), di  sinilah lahir teori kontrapun (counterpoint=kontrapunt).&lt;br /&gt;Johan Sebastian Bach (1685-1750) adalah salah satu empu musik  polifoni dengan teknik kontrapun yang sangat tinggi, karema disusun  seperti matematik. Hampir semua komponis Era Barok (1600-1750) menyusun  dengan teknik kontrapun, misalnya George Frederic Handle dari Inggris,  Jean Remeau dari Pernacis, Correli dari Itali, dlsb. Lagu rakyat dengan  gaya polifoni adalah Papa Yakob.&lt;br /&gt;Pada awalnya orang menyusun dengan Kontrapun Terikat atau Strict  Counterpoint, namun kemudian menadapat kebebasan berdasarkan teori  Kontrapun Bebas atau Free Counterpoint.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=7" title="Sunting bagian: Musik Homofoni Era Klasik 1750-1825"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Homofoni_Era_Klasik_1750-1825"&gt;Musik Homofoni Era Klasik 1750-1825&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Selanjutnya pada Era Klasik (1750-1825) ditemukan susunan akord yang  berdasarkan tri-suara (triad), selanjutnya berkembang dengan empat suara  atau lebih. Musik yang demikian ini disebut Musik Homofoni, sehingga  kontrapun menjadi variasi melodi yang kontrapuntis.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=8" title="Sunting bagian: Musik Klasik Era Romantik 1820-1910"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Klasik_Era_Romantik_1820-1910"&gt;Musik Klasik Era Romantik 1820-1910&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Hampir tidak banyak perubahan dalam kontrapun dan harmoni secara  fundamental pada Era Romantik (1820-1910), namun ada kemajuan dalam  orketrasi lengkap (dengan penemuan alat musik). Era ini adalah yang  terakhir dan masih dapat diterima dengan pendengaran masyarakat umum.  Terutama pada musik opera, musik balet, dan walsa wina.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=9" title="Sunting bagian: Musik Klasik Modern 1910-sekarang"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Klasik_Modern_1910-sekarang"&gt;Musik Klasik Modern 1910-sekarang&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Musik Modern dengan Musik Atonal dan Politonal telah jauh dari  penggemar musik yang menyenangi musik konvensional, karena suara yang  disonan dan irama yang tidak teratur membutuhkan konsentrasi dalam  mendengar. asuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=10" title="Sunting bagian: Sejarah Musik Pop sejak 1920"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Sejarah_Musik_Pop_sejak_1920"&gt;Sejarah Musik Pop sejak 1920&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=11" title="Sunting bagian: Musik Ragtime di Amerika Serikat sejak 1890"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Ragtime_di_Amerika_Serikat_sejak_1890"&gt;Musik Ragtime di Amerika Serikat sejak 1890&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Musik Ragtime atau Cincang-Babi, adalah musik Amerika yang  dipengaruhi oleh etnis Afrika-Amerika dan musik klasik Eropa. Musik ini  mulai terkenal di daratan Amerika sekitar tahun 1890 hingga 1920. Musik  ini mempuyai tempo atau irama yang cepat dengan dominasi sinkopasi,  namun ada juga yang berirama agak lamban.&lt;br /&gt;Biasanya musik ini dimainkan khusus dengan piano, gaya cincang-babi,  dan para pianis dan pencipta antara lain Scott Joplin (1868-1917), James  Scott (1885-1938), dan Joseph Lamb (1887-1959).&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=12" title="Sunting bagian: Musik Blues di Amerika Serikat sejak 1895"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Blues_di_Amerika_Serikat_sejak_1895"&gt;Musik Blues di Amerika Serikat sejak 1895&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Musik Blues juga lahir dari etnis Afrika-Amerika di semenanjung Delta  Mississippi pada akhir abad XIX sekitar tahun 1895 dan berlangsung  hingga kini. Musik ini lahir dari kehidupan para budak yang bekerja  sebagai buruh tani ras Afrika di Amerika, di mana pada saat mereka  bekerja atau istirahat sore hari mereka mengalunkan lagu-lagu sedih  (blues) yang khas melodi ras Afrika, dan tentu saja dengan lirik-lirik  budak yang tertindas pada waktu itu. Pada awalnya lagu blues hanya  dinyanyikan tanpa iringan instrument, kemudia baru meraka mempergunakan  alat petik gitar sebagai iringan.&lt;br /&gt;Belakangan musik blues ini memengaruhi perkembangan musik jazz,  country, dan rock. Perhatikan bahwa irama dan melodi musik blues sangat  kental dengan ras Afrika. Kadang-kadang dalam syair timbul cerita  tentang kesedihan mereka sebagai budak dan buruh tani, dan tentu saja  perkembangannya sangat dipengaruhi lingkungan urban maupun desa Amerika,  di mana ras Afrika mendominasi gaya musik blues.&lt;br /&gt;Para pemusik blues dan pencipta blues, rata-rata orang hitam Amerika,  adalah di mana W.C. Handy (1873-1958) adalah bapak blues. Lagu Aunt  Hagar's Children dan Saint Louis Blues diterbitkan masing-masing pada  tahun 1914 dan 1921.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=13" title="Sunting bagian: Musik Pop di Amerika Serikat mulai 1920"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Pop_di_Amerika_Serikat_mulai_1920"&gt;Musik Pop di Amerika Serikat mulai 1920&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Setelah Perang Dunia I berakhir (1918), maka musik baru di benua  Amerika lahir yang disebut dengan Musik Populer. Musik ini terutama  sebagai musik lantai dansa yang pada waktu itu menjadi populer sekali  dan digemari oleh masyarakat seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=14" title="Sunting bagian: Musik Amerika Latin lahir sejak 1857"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Amerika_Latin_lahir_sejak_1857"&gt;Musik Amerika Latin lahir sejak 1857&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Ciptaan-ciptaan pencipta pada waktu itu dengan pengaruh latin adalah  antara lain dari George Bizets Hababera dari opera Carmen (1875); Scott  Joplin’s Mexican Serenade, Solace (1902); Maurice Ravels Rapsodie  Espagnole (1907), dan Bolero (1928).&lt;br /&gt;Musik pop latin dimulai sejak dansa latin dikenal, yaitu sejak tahun  1920 juga. Dansa Tango menjadi salah satu balroom dance yang terkenal  pada tahun 1920 di Amerika maupun Eropa, di mana lagu Tango yang  bertangga nada minor dan melankolik, serta step dansa yang agresif.  Setelah itu tahuj 1930 dan 1940 berkembang menjadi salah satu musik yang  digemari di dunia, dengan tokoh seperti Xavier Cugat, Peres Prado,  dlsb. Irama yang berkembang pada waktu itu adalah Rhumba, Samba, Conga,  Salsa, Mambo, dlsb.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=15" title="Sunting bagian: Musik Country sejak 1920"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Musik_Country_sejak_1920"&gt;Musik Country sejak 1920&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Musik Country sering diidentitaskan dengan musik cowboy (penggembala  sapi). Musik ini lahir pada rekaman permainan biola country John Carson  dengan rekaman "Little Log Cabin in the Lane" oleh Okeh Records pada  tahun 1923. Kemudian lahir rekaman oleh Columbia pada tahun 1924 "Old  Familiar Tunes". Seperti diketahui steel guitar masuk country pada tahun  1922, di mana Jimmie Tarlton bertemu dengan Hawaiian guitarist Frank  Ferera pada pantai barat Amerika.&lt;br /&gt;Mulai tahun 1927, selama 17 tahun Carters merekam sekitar 300  old-time ballads, lagu traditional, lagu country, dll. Selanjutnya pada  tahun 1930-an dan 1940-an lagu cowboy menjadi populer di semua film  Hallywood. Dan tahun 1939 irama Boogie-woogie menjadi terkenal.&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_populer&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=16" title="Sunting bagian: Aliran-aliran dalam musik populer"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Aliran-aliran_dalam_musik_populer"&gt;Aliran-aliran dalam musik populer&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Heavy_metal" title="Heavy metal"&gt;Heavy metal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hip-hop" title="Hip-hop"&gt;Hip-hop&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/R%26B" title="R&amp;amp;B"&gt;R&amp;amp;B&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teen_pop&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Teen pop (halaman belum tersedia)"&gt;Teen pop&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Balada" title="Balada"&gt;Balada&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Emo" title="Emo"&gt;Emo&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dance" title="Dance"&gt;Dance&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Disko" title="Disko"&gt;Disko&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Disko_emo&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Disko emo (halaman belum tersedia)"&gt;Disko emo&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pop" title="Pop"&gt;Pop&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Soul&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Soul (halaman belum tersedia)"&gt;Soul&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rock" title="Rock"&gt;Rock&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Reggae" title="Reggae"&gt;Reggae&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronika" title="Elektronika"&gt;Musik elektronik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=New_age&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="New age (halaman belum tersedia)"&gt;New age&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dark_Metal&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Dark Metal (halaman belum tersedia)"&gt;Dark Metal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Death_metal" title="Death metal"&gt;Death metal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Grind_Metal&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Grind Metal (halaman belum tersedia)"&gt;Grind Metal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Progressive_Rock" title="Progressive Rock"&gt;Progressive Rock&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Progressive_Pop&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Progressive Pop (halaman belum tersedia)"&gt;Progressive Pop&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Progressive_Metal&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Progressive Metal (halaman belum tersedia)"&gt;Progressive Metal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alternative_rock" title="Alternative rock"&gt;Alternative rock&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alternative_pop&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Alternative pop (halaman belum tersedia)"&gt;Alternative pop&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alternative_metal" title="Alternative metal"&gt;Alternative metal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Slow_rock&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Slow rock (halaman belum tersedia)"&gt;slow rock&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dangdut" title="Dangdut"&gt;Dangdut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6912150852758031258-5479571769996252905?l=usamusic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://usamusic.blogspot.com/feeds/5479571769996252905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/2011/08/sejarah-musik-klasik-sejak-musik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default/5479571769996252905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default/5479571769996252905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/2011/08/sejarah-musik-klasik-sejak-musik.html' title='Sejarah Musik Klasik sejak Musik Gregorian tahun 590'/><author><name>usamusic</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09311628297504215709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6912150852758031258.post-3979006075742698711</id><published>2011-08-17T20:03:00.001-07:00</published><updated>2011-08-17T20:03:53.773-07:00</updated><title type='text'>Keroncong</title><content type='html'>&lt;h1 class="firstHeading" id="firstHeading"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div id="siteSub"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellspacing="5" class="infobox" style="background: #FFDDAA; border: 2px #2A2286 solid; font-size: 88%; width: 22em;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;th colspan="2" style="font-size: 125%; font-weight: bold; text-align: center; text-align: center;"&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_dari_Indonesia" title="Musik dari Indonesia"&gt;Musik dari Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr class=""&gt; &lt;td class="" colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;a class="image" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Traditional_indonesian_instruments04.jpg&amp;amp;filetimestamp=20051204041404"&gt;&lt;img alt="Traditional indonesian instruments04.jpg" height="133" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7e/Traditional_indonesian_instruments04.jpg/200px-Traditional_indonesian_instruments04.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Gong dari Jawa&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr class=""&gt; &lt;td class="" colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Garis_waktu_tren_musik_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Garis waktu tren musik Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Garis waktu&lt;/a&gt; • &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Contoh_musik_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Contoh musik Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Contoh&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th colspan="2" style="background: #ccf; border: thin #2A2286 solid; text-align: center;"&gt;Ragam&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr class=""&gt; &lt;td class="" colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_klasik_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik klasik Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Klasik&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kecak" title="Kecak"&gt;Kecak&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kecapi_suling&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kecapi suling (halaman belum tersedia)"&gt;Kecapi suling&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tembang_Sunda&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Tembang Sunda (halaman belum tersedia)"&gt;Tembang Sunda&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_pop_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik pop Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Pop&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dangdut" title="Dangdut"&gt;Dangdut&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Indonesian_hip_hop&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Indonesian hip hop (halaman belum tersedia)"&gt;Hip hop&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;strong class="selflink"&gt;Keroncong&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gambang_keromong" title="Gambang keromong"&gt;Gambang keromong&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gambus" title="Gambus"&gt;Gambus&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jaipongan" title="Jaipongan"&gt;Jaipongan&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Langgam_Jawa" title="Langgam Jawa"&gt;Langgam Jawa&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pop_Batak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pop Batak (halaman belum tersedia)"&gt;Pop Batak&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pop_Minang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pop Minang (halaman belum tersedia)"&gt;Pop Minang&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pop_Sunda&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pop Sunda (halaman belum tersedia)"&gt;Pop Sunda&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Qasidah_modern&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Qasidah modern (halaman belum tersedia)"&gt;Qasidah modern&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_rock_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik rock Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Rock&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tapanuli_ogong&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Tapanuli ogong (halaman belum tersedia)"&gt;Tapanuli ogong&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tembang_Jawa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Tembang Jawa (halaman belum tersedia)"&gt;Tembang Jawa&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th colspan="2" style="background: #ccf; border: thin #2A2286 solid; text-align: center;"&gt;Bentuk tertentu&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr class=""&gt; &lt;td class="" colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung" title="Angklung"&gt;Angklung&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Beleganjur&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Beleganjur (halaman belum tersedia)"&gt;Beleganjur&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Calung" title="Calung"&gt;Calung&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan" title="Gamelan"&gt;Gamelan&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_degung&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan degung (halaman belum tersedia)"&gt;Degung&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_gambang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan gambang (halaman belum tersedia)"&gt;Gambang&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_gong_gede&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan gong gede (halaman belum tersedia)"&gt;Gong gede&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_gong_kebyar&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan gong kebyar (halaman belum tersedia)"&gt;Gong kebyar&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_jegog&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan jegog (halaman belum tersedia)"&gt;Jegog&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_joged_bumbung&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan joged bumbung (halaman belum tersedia)"&gt;Joged bumbung&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_salendro&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan salendro (halaman belum tersedia)"&gt;Salendro&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_selunding&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan selunding (halaman belum tersedia)"&gt;Selunding&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gamelan_semar_pegulingan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Gamelan semar pegulingan (halaman belum tersedia)"&gt;Semar pegulingan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt; &lt;th colspan="2" style="background: #ccf; border: thin #2A2286 solid; text-align: center;"&gt;Musik daerah&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt;&lt;tr class=""&gt; &lt;td class="" colspan="2" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Bali&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Bali (halaman belum tersedia)"&gt;Bali&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Kalimantan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Kalimantan (halaman belum tersedia)"&gt;Kalimantan&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Jawa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Jawa (halaman belum tersedia)"&gt;Jawa&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Kepulauan_Maluku&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Kepulauan Maluku (halaman belum tersedia)"&gt;Kepulauan Maluku&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Papua&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Papua (halaman belum tersedia)"&gt;Papua&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Sulawesi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Sulawesi (halaman belum tersedia)"&gt;Sulawesi&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Sumatera&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Sumatera (halaman belum tersedia)"&gt;Sumatera&lt;/a&gt;&amp;nbsp;•&lt;/span&gt; &lt;span style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musik_Sunda&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Musik Sunda (halaman belum tersedia)"&gt;Sunda&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="thumb tright"&gt; &lt;div class="thumbinner" style="width: 222px;"&gt;&lt;a class="image" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Keroncong_Merah_Putih.jpg&amp;amp;filetimestamp=20101213123219"&gt;&lt;img alt="" class="thumbimage" height="147" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/00/Keroncong_Merah_Putih.jpg/220px-Keroncong_Merah_Putih.jpg" width="220" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div class="thumbcaption"&gt; &lt;div class="magnify"&gt;&lt;a class="internal" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Keroncong_Merah_Putih.jpg&amp;amp;filetimestamp=20101213123219" title="Perbesar"&gt;&lt;img alt="" height="11" src="http://bits.wikimedia.org/skins-1.17/common/images/magnify-clip.png" width="15" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Orkes Keroncong Merah Putih yang berbasis di Bandung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Keroncong&lt;/b&gt; merupakan nama dari &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Instrumen_musik" title="Instrumen musik"&gt;instrumen musik&lt;/a&gt; sejenis &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ukulele" title="Ukulele"&gt;ukulele&lt;/a&gt; dan juga sebagai nama dari jenis musik khas &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; yang menggunakan instrumen musik keroncong, &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Flute" title="Flute"&gt;flute&lt;/a&gt;, dan seorang penyanyi wanita.&lt;br /&gt;&lt;table class="toc" id="toc"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;div id="toctitle"&gt; &lt;h2&gt;Daftar isi&lt;/h2&gt;&lt;span class="toctoggle"&gt;[&lt;a class="internal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#" id="togglelink"&gt;sembunyikan&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Asal-usul"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Asal-usul&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Alat-alat_musik"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Alat-alat musik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-3"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Jenis_keroncong"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Jenis keroncong&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-4"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Perkembangan_keroncong_masa_kini"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Perkembangan keroncong masa kini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-2 tocsection-5"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Masa_keroncong_tempo_doeloe_.281880-1920.29"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-6"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Stambul_I:"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.1.1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Stambul I:&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-7"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Stambul_II:"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.1.2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Stambul II:&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-8"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Stambul_III:"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.1.3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Stambul III:&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-2 tocsection-9"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Masa_keroncong_abadi_.281920-1960.29"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Masa keroncong abadi (1920-1960)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-10"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Langgam_Keroncong"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.2.1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Langgam Keroncong&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-11"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Stambul_Keroncong:"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.2.2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Stambul Keroncong:&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-12"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Keroncong_Asli"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.2.3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Keroncong Asli&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-2 tocsection-13"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Masa_keroncong_modern_.281960-2000.29"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Masa keroncong modern (1960-2000)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-14"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Langgam_Jawa"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.3.1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Langgam Jawa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-15"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Keroncong_Beat"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.3.2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Keroncong Beat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-16"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Campur_Sari"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.3.3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Campur Sari&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-17"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Keroncong_Koes-Plus"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.3.4&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Keroncong Koes-Plus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-3 tocsection-18"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Keroncong_Dangdut_.28Congdut.29"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.3.5&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Keroncong Dangdut (Congdut)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-2 tocsection-19"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Masa_keroncong_millenium_.282000-kini.29"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4.4&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Masa keroncong millenium (2000-kini)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-20"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Tokoh_keroncong"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;5&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Tokoh keroncong&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-21"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Referensi"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;6&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1 tocsection-22"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#Pranala_luar"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;7&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Pranala luar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=1" title="Sunting bagian: Asal-usul"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Asal-usul"&gt;Asal-usul&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Akar keroncong berasal dari sejenis musik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugal" title="Portugal"&gt;Portugis&lt;/a&gt; yang dikenal sebagai &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fado&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Fado (halaman belum tersedia)"&gt;fado&lt;/a&gt; yang diperkenalkan oleh para pelaut dan &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budak" title="Budak"&gt;budak&lt;/a&gt; kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara" title="Nusantara"&gt;Nusantara&lt;/a&gt;. Dari daratan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/India" title="India"&gt;India&lt;/a&gt; (&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Goa" title="Goa"&gt;Goa&lt;/a&gt;) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku" title="Maluku"&gt;Maluku&lt;/a&gt;.  Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan  serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut  &lt;i&gt;moresco&lt;/i&gt; (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban  ritmenya), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali kini  dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai.  Musik keroncong yang berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tugu" title="Tugu"&gt;Tugu&lt;/a&gt; disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seruling" title="Seruling"&gt;seruling&lt;/a&gt; serta beberapa komponen &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan" title="Gamelan"&gt;gamelan&lt;/a&gt;.  Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di  banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa  keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian  meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rock" title="Rock"&gt;rock&lt;/a&gt; yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Beatle&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Beatle (halaman belum tersedia)"&gt;Beatle&lt;/a&gt;  dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian,  musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai  lapisan masyarakat di Indonesia dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia" title="Malaysia"&gt;Malaysia&lt;/a&gt; hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=2" title="Sunting bagian: Alat-alat musik"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Alat-alat_musik"&gt;Alat-alat musik&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biola" title="Biola"&gt;biola&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ukulele" title="Ukulele"&gt;ukulele&lt;/a&gt;, serta &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Selo" title="Selo"&gt;selo&lt;/a&gt;.  Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai  oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh  komunitas keturunan budak Portugis dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ambon" title="Ambon"&gt;Ambon&lt;/a&gt; yang tinggal di Kampung Tugu, &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Utara" title="Jakarta Utara"&gt;Jakarta Utara&lt;/a&gt;,  yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh  orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun  1920-1960 pusat perkembangan pindah ke &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Solo" title="Solo"&gt;Solo&lt;/a&gt;, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa" title="Suku Jawa"&gt;orang Jawa&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pem-"pribumi"-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sitar" title="Sitar"&gt;sitar&lt;/a&gt; India&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rebab" title="Rebab"&gt;rebab&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suling" title="Suling"&gt;suling&lt;/a&gt; bambu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gendang" title="Gendang"&gt;gendang&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kenong" title="Kenong"&gt;kenong&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saron" title="Saron"&gt;saron&lt;/a&gt; sebagai satu set &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan" title="Gamelan"&gt;gamelan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gong" title="Gong"&gt;gong&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ukulele" title="Ukulele"&gt;ukulele&lt;/a&gt; &lt;i&gt;cuk&lt;/i&gt;, berdawai 3 (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nilon" title="Nilon"&gt;nilon&lt;/a&gt;), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan &lt;i&gt;crong&lt;/i&gt; - &lt;i&gt;crong&lt;/i&gt; sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hawai" title="Hawai"&gt;Hawai&lt;/a&gt;, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ukulele &lt;i&gt;cak&lt;/i&gt;, berdawai 4 (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baja" title="Baja"&gt;baja&lt;/a&gt;), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tangga_nada" title="Tangga nada"&gt;tangga nada&lt;/a&gt; C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan &lt;i&gt;in F&lt;/i&gt;);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gitar" title="Gitar"&gt;gitar&lt;/a&gt; akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biola" title="Biola"&gt;biola&lt;/a&gt; (menggantikan Rebab); sejak dibuat oleh &lt;i&gt;Amati&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Stradivarius&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;Cremona Itali&lt;/i&gt; sekitar tahun &lt;i&gt;1600&lt;/i&gt; tidak pernah berubah modelnya hingga sekarang;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Flute" title="Flute"&gt;flute&lt;/a&gt; (mengantikan Suling Bambu), pada &lt;i&gt;Era Tempo Doeloe&lt;/i&gt; memakai &lt;i&gt;Suling Albert&lt;/i&gt; (suling kayu hitam dengan lubang dan klep, suara agak patah-patah, contoh orkes Lief Java), sedangkan pada &lt;i&gt;Era Keroncong Abadi&lt;/i&gt; telah memakai &lt;i&gt;Suling Bohm&lt;/i&gt; (suling metal semua dengan klep, suara lebih halus dengan ornamen nada yang indah, contoh flutis &lt;i&gt;Sunarno dari Solo&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Beny Waluyo dari Jakarta&lt;/i&gt;);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Selo" title="Selo"&gt;selo&lt;/a&gt;; betot menggantikan kendang, juga tidak pernah berubah sejak dibuat oleh &lt;i&gt;Amati&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Stradivarius&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;Cremona Itali 1600&lt;/i&gt;, hanya saja dalam keroncong dimainkan secara khas &lt;i&gt;dipetik/pizzicato&lt;/i&gt;;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kontrabas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kontrabas (halaman belum tersedia)"&gt;kontrabas&lt;/a&gt; (menggantikan Gong), juga bas yang dipetik, tidak pernah berubah sejak &lt;i&gt;Amati&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Stradivarius&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;Cremona Itali 1600&lt;/i&gt; membuatnya;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akord" title="Akord"&gt;akord&lt;/a&gt;.  Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen  bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang  melodi yang kosong.&lt;br /&gt;Bentuk keroncong yang dicampur dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_populer" title="Musik populer"&gt;musik populer&lt;/a&gt; sekarang menggunakan organ tunggal serta &lt;i&gt;synthesizer&lt;/i&gt; untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3" title="Sunting bagian: Jenis keroncong"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Jenis_keroncong"&gt;Jenis keroncong&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Musik keroncong lebih condong pada progresi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akord" title="Akord"&gt;akord&lt;/a&gt;  dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah  dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola  progresi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akord" title="Akord"&gt;akordnya&lt;/a&gt;.  Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu  keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang  berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola  tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta  adaptasi.&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4" title="Sunting bagian: Perkembangan keroncong masa kini"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Perkembangan_keroncong_masa_kini"&gt;Perkembangan keroncong masa kini&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang  Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung  Tugu tahun 1661 &lt;sup class="reference" id="cite_ref-0"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#cite_note-0"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, dan ini merupakan &lt;b&gt;masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880)&lt;/b&gt;, hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara &lt;i&gt;crong-crong-crong&lt;/i&gt;, sehingga boleh dikatakan &lt;b&gt;musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;Dan akhirnya &lt;b&gt;musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini&lt;/b&gt;,  dengan tiga tahap perkembangan terakhir yang sudah berlangsung dan satu  perkiraan perkembangan baru (keroncong millenium). Tonggak awal adalah  pada tahun 1879 &lt;sup class="reference" id="cite_ref-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#cite_note-1"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, di saat penemuan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ukulele" title="Ukulele"&gt;ukulele&lt;/a&gt; di Hawai &lt;sup class="reference" id="cite_ref-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#cite_note-2"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: &lt;i&gt;crong-crong-crong&lt;/i&gt;), sedangkan awal keroncong millenium sudah ada tanda-tandanya, namun belum berkembang (Bondan Prakoso).&lt;br /&gt;Empat tahap masa perkembangan tersebut adalah&lt;sup class="reference" id="cite_ref-3"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#cite_note-3"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;dl&gt;&lt;dd&gt;(a) Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920),&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;(c) Masa keroncong modern (1960-2000), serta&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;(d) Masa keroncong millenium (2000-kini)&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=5" title="Sunting bagian: Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920)"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Masa_keroncong_tempo_doeloe_.281880-1920.29"&gt;Masa keroncong tempo doeloe (1880-1920)&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hawaii" title="Hawaii"&gt;Hawaii&lt;/a&gt;,  sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma  pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah  Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, sekitar  tahun 1913). &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komedie_Stamboel_1891-1903" title="Komedie Stamboel 1891-1903"&gt;Komedie Stamboel 1891-1903&lt;/a&gt; lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa &lt;i&gt;Pentas Gaya Instanbul&lt;/i&gt;,  yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan  Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan  meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun  Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar  adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan  keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu Stambul I,  Stambul II, dan Stambul III.&lt;br /&gt;Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Warga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Tugu" title="Kampung Tugu"&gt;Kampung Tugu&lt;/a&gt; maupun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kusbini" title="Kusbini"&gt;Kusbini&lt;/a&gt; menyebut sebagai &lt;i&gt;Keroncong Portugis&lt;/i&gt;, sedangkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gesang" title="Gesang"&gt;Gesang&lt;/a&gt; menyebut sebagai &lt;i&gt;Keroncong Cepat&lt;/i&gt;,  dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal  para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan  rekaman &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Idris_Sardi" title="Idris Sardi"&gt;Idris Sardi&lt;/a&gt;  main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M.  Sagi). Seperti diketahui bahwa panjang lagu stambul adalah 16 birama,  yang terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=6" title="Sunting bagian: Stambul I:"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Stambul_I:"&gt;Stambul I:&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Lagu ini misalnya Terang Bulan, Potong Padi, Nina Bobo, Sarinande, O  Ina Ni Keke, Bolelebo, dll. dengan struktur bentuk A - B - A - B atau A -  B - C - D (16 birama):&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;|I , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|, , , , |, , , , |, , , , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|I7, , , |IV, , , |, , V7, |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|, , , , |V7, , , |, , , , |I , , , ||&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=7" title="Sunting bagian: Stambul II:"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Stambul_II:"&gt;Stambul II:&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Lagu ini misalnya Si Jampang, Jali-Jali, di mana masuk pada Akord IV  sebagai ciri Stambul II dengan struktur A - B - A - C (16 birama):&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;|I . . . |. . . . |. . . . |IV, , , | (tanda . artinya tacet)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|, , , , |, , , , |, , V7, |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|, , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|, , , , |, , , , |, , , , |I , , , ||&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=8" title="Sunting bagian: Stambul III:"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Stambul_III:"&gt;Stambul III:&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Lagu ini misalnya Kemayoran, di mana mirip dengan Keroncong A sli  sehingga sering salah diucapkan dengan Kr. Kemayoran, yang seharusnya  Stambul III Kemayoran, dengan struktur Prelude - A - Interlude - B - C  (16 birama):&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pr|I , , , |, , , , | &lt;i&gt;&lt;b&gt;Prelude&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; 2 birama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;A1|, , , , |, , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;A2|II#, , ,|V7, , , | &lt;i&gt;Modulasi&lt;/i&gt; 2 birama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;In|, , , , |IV, , , | &lt;i&gt;&lt;b&gt;Interlude&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; 2 birama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;B1|, , , , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;B2|V7, , , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;C1|, , , , |, , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;C2|V7, , , |I , , , ||&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Musiq Losquin Bugis&lt;/b&gt;: Dari periode tempo doeloe ini lahir pula di Makassar bentuk keroncong khas yang dikenal sebagai &lt;i&gt;musiq losquin Bugis&lt;/i&gt;, misalnya lagu &lt;i&gt;Ongkona Arumpone&lt;/i&gt; yang dinyanyikan oleh &lt;i&gt;Sukaenah B. Salamaki.&lt;/i&gt; Irama keroncong ini, tanpa seruling-biola-cello, tapi dengan melodi guitar yang kental, mirip seperti gaya &lt;i&gt;Tjoh de Fretes&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;Ambon.&lt;/i&gt;  Kalau kita hubungkan kesemua ini, maka ada garis kesamaan dengan Orkes  Keroncong Cafrino Tugu (Kr. Pasar Gambir) – Orkes Keroncong Lief Java  (Kr. Kali Brantas) – Losquin Bugis (Ongkona Arumpone) – Orkes Hawaian  Tjoh de Fretes (Pulau Ambon), yaitu gaya &lt;i&gt;era tempo doeloe&lt;/i&gt; dengan irama yang cepat sudah dengan kendangan cello dan dengan guitar melodi yang kental.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=9" title="Sunting bagian: Masa keroncong abadi (1920-1960)"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Masa_keroncong_abadi_.281920-1960.29"&gt;Masa keroncong abadi (1920-1960)&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Pada masa ini panjang lagu telah berubah menjadi 32 birama, akibat  pengaruh musik pop Amerika yang melanda lantai dansa Hotel2 di Indonesia  pada waktu itu, dengan musisi didominasi dari Filipina (spt Pablo,  Sambayon, dll), dan berakibat juga lagu pada waktu itu telah 32 birama  juga, perhatikan lagu Indonesia Raya (diciptakan tahun 1924) pada waktu  itu juga sudah 32 birama. Selanjutnya pusat perkembangan beralih ke  timur mengikuti jaringan kereta api melalui Solo dan iramanya juga lebih  lamban (sekitar 80 untuk seperempat nada) dengan kendangan cello mirip  kendangan gamelan, dan permainan gitar melodi mirip alunan siter musik  gamelan yang kontrapuntis. Masa ini lahir para musisi Solo, seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gesang" title="Gesang"&gt;Gesang&lt;/a&gt; dan penyanyi legendaris &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Annie_Landouw" title="Annie Landouw"&gt;Annie Landouw&lt;/a&gt;. Lagu Keroncong Abadi terdiri atas: Langgam Keroncong, Stambul Keroncong, dan Keroncong Asli.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=10" title="Sunting bagian: Langgam Keroncong"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Langgam_Keroncong"&gt;Langgam Keroncong&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A - A - B - A dengan  pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse A -  Verse A - Bridge B - Verse A, panjang 32 birama. Beda sedikit pada versi  kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah  memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas  diekspresikan. Penyanyi serba bisa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hetty_Koes_Endang" title="Hetty Koes Endang"&gt;Hetty Koes Endang&lt;/a&gt;  misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam  menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam.  Alur akord-nya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Verse A | V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Verse A |V7 , , , | I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bridge B |I7 , , , |IV , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | II# , , , | II# , , , | V , , ,|&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Verse A |V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=11" title="Sunting bagian: Stambul Keroncong:"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Stambul_Keroncong:"&gt;Stambul Keroncong:&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Stambul Keroncong berbentuk (A-B-A-B') x 2 = 16 birama x 2 = 32  birama, merupakan modifikasi Stambul II yang 16 birama menjadi 32 birama  (menyesuaikan standar Keroncong Abadi yang 32 birama). Stambul  merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara  yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di  Indonesia dengan nama &lt;i&gt;Komedi stambul&lt;/i&gt;. Nama "stambul" diambil dari &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istambul" title="Istambul"&gt;Istambul&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Turki" title="Turki"&gt;Turki&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Alur akord Stambul Keroncong adalah sbb. (tanda - adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;|I - - - | - - - - | - - - - |IV , , , | &lt;i&gt;dibuka dg broken chord I utk mencari nada&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|IV , , , |IV , , , |IV , V ,|I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|I , , , |I , , , |I , , , |IV , , , | &lt;i&gt;16 birama ini pengulangan dari 16 birama pertama atau sama&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|IV , , , |IV , , , |IV , V , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;|V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=12" title="Sunting bagian: Keroncong Asli"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Keroncong_Asli"&gt;Keroncong Asli&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Keroncong asli memiliki bentuk lagu A - B - B'. Lagu terdiri atas 8  baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan PRELUDE 4  birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi INTERLUDE  standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga.  Keroncong asli diawali oleh &lt;i&gt;voorspel&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;prelude&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;intro&lt;/i&gt;  yang diambil dari baris 7 (B3) mengarah ke nada/akord awal lagu, yang  dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau  gitar; dan &lt;i&gt;tussenspel&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;interlude&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;intermezzo&lt;/i&gt; di tengah-tengah setelah &lt;i&gt;modulasi/modulatie/modulation&lt;/i&gt; yang standar untuk semua keroncong asli: Alur akordnya seperti tersusun di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pr |V , , , |I , I7 , |IV , V7 , |I , , , | &lt;b&gt;Prelude&lt;/b&gt; &lt;i&gt;4 &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Birama" title="Birama"&gt;birama&lt;/a&gt; diambil dari baris ke-7 (B3)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(A1) | I , , , | I , , , | V , , , | V , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(A2) |II# , , , | II# , , , | V , , , | &lt;i&gt;Modulasi merupakan ciri keroncong asli sebanyak 4 birama&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;In |V , , , | V , , , | V , , , |IV , , , | &lt;b&gt;Interlude&lt;/b&gt; &lt;i&gt;4 birama untuk semua lagu menjadi standar&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(B1) | IV , , ,| IV , , ,|V7 , , , | I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(B2) |I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , I7 , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(B3) |IV , V7 , |I , I7 , | IV , V7 , |I , , , |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(B2) | I , , , | V7 , , , | V7 , , ,| I , , , |&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Kadensa Keroncong&lt;/b&gt; Dalam Teori Musik Klasik dikenal 4 (empat)  jenis Kadensa, di mana Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni sebagai  penutup pada akhir melodi atau di tengah kalimat, sehingga bisa menutup  sempurna melodi tersebut atau setengah menutup (sementara) melodi  tersebut. Sedangkan Tierce de Picardy boleh dimasukan dalam Kadensa, dan  pada Masa Keroncong Abadi tercipta satu Kadensa baru, disebut Kadensa  Keroncong dengan rangkaian penutup I-I7-IV-V7-I.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kadensa dengan rangkaian V7-I disebut sebagai &lt;b&gt;Kadensa Sempurna&lt;/b&gt;, karena sempurna menutup rangkaian tersebut dan terasa berhenti sempurna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tetapi kalau akord X-V7 menjadi akhir rangaian, maka disebut &lt;b&gt;Kadensa Tidak Sempurna&lt;/b&gt; atau Setengah Kadensa, misalnya rangkaian Super Tonik - Dominan Septim.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalau rangkaian harmoni diakhiri pada X-VI, maka disebut &lt;b&gt;Kadensa Terputus&lt;/b&gt;, misalnya Doninan Septim - Submedian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam rangkaian IV-I disebut &lt;b&gt;Kadensa Plagal&lt;/b&gt;, mempunyai sifat sendu seperti kalau kita mengucap "Amin" dalam salat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lagu kunci minor ditutup pada kunci mayor, disebut &lt;b&gt;Tierce de Piecardy&lt;/b&gt;, jadi sebenarnya bukan kadensa, namun biasanya dipakai dalam akhir lagu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Kadensa Keroncong&lt;/b&gt;, khusus dikembangkan dalam musik keroncong, yaitu rangkaian harmoni I7-IV-V7-I&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Ismail Marzuki (1914-1958)&lt;/b&gt; Komponis Ismail Marzuki termasuk hidup dalam &lt;i&gt;Era Keroncong Abadi&lt;/i&gt;, namun lagu-lagunya sangat modern pada zamannya, misalnya &lt;i&gt;Sepasang Mata Bola&lt;/i&gt; ditulis dalam kunci minor sehingga dapat dinyanyikan dengan iringan keroncong seperti &lt;i&gt;keroncong beat (1958)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gambang Keromong&lt;/b&gt; Gambang Keromong adalah salah satu gaya  keroncong yang dikembangkan oleh Etnis Tionghoa (gambang adalah alat  musik bilah kayu seperti marimba, sedangkan keromong adalah istilah lain  dari kempul) yang dikembangkan sekitar tahun 1922 di Kemayoran Jakarta  (tanjidor), namun kemudian berkembang di Semarang sekitar tahun 1949  (ingat lagu Gambang Semarang - Oey Yok Siang). Sebenarnya Gambang  Keromong yang lahir di Masa Keroncong Abadi 1920-1960 adalah cikal bakal  Campursari yang lahir pada Masa Keroncong Modern.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masa Keemasan&lt;/b&gt; (The Golden Age). Pada tahun 1952, Radio  Republik Indonesia (RRI) menyelenggarakan perlombaan Bintang Radio  dengan 3 jenis, Keroncong, Hiburan dan Seriosa. Di sanmping itu juga  dilombakan mencipta lagu keroncong, salah satu pememnag adalah Musisi  Kusbini dengan lagu Keroncong Pastoral. Pada masa akhir dari Keroncong  Abadi (1920-1960) ini merupakan Masa Keemasan (Golden Age) bagi musik  keroncong.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=13" title="Sunting bagian: Masa keroncong modern (1960-2000)"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Masa_keroncong_modern_.281960-2000.29"&gt;Masa keroncong modern (1960-2000)&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Perkembangan keroncong masih di daerah Solo dan sekitarnya, namun  muncul berbagai gaya baru yang berbeda dengan Masa Keroncong Abadi  (termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai dengan  lingkungannya.&lt;br /&gt;Mulai &lt;b&gt;Masa keroncong modern&lt;/b&gt; (1960-2000) &lt;b&gt;semua aturan baku&lt;/b&gt; (pakem) &lt;b&gt;Musik Keroncong tidak berlaku&lt;/b&gt;, karena &lt;b&gt;mengikuti aturan baku&lt;/b&gt; (pakem) &lt;b&gt;Musik Pop&lt;/b&gt; yang berlaku &lt;b&gt;universal&lt;/b&gt;, misalnya &lt;i&gt;tangga nada minor&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;moda pentatonis Jawa/Cina&lt;/i&gt;, rangkaian harmoni &lt;i&gt;diatonik dan kromatik&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;akord disonan&lt;/i&gt;, sifat &lt;i&gt;politonal atau atonal&lt;/i&gt; (pada campursari), tidak megenal lagi pakem bentuk &lt;i&gt;keroncong asli atau stambul&lt;/i&gt;, ada irama &lt;i&gt;nuansa dangdut&lt;/i&gt; (congdut), mulai tahun 1998 &lt;i&gt;musik rap&lt;/i&gt; mulai masuk (Bondan Prakoso), dlsb.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=14" title="Sunting bagian: Langgam Jawa"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Langgam_Jawa"&gt;Langgam Jawa&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Langgam_Jawa" title="Langgam Jawa"&gt;langgam Jawa&lt;/a&gt;,  yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa memiliki  ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa  diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), &lt;i&gt;saron&lt;/i&gt;, dan adanya &lt;i&gt;bawa&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;suluk&lt;/i&gt;  berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama  dimulai secara utuh. Tahun 1968 Langgam Jawa berkembang menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Campursari" title="Campursari"&gt;Campursari&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Umumnya mempunyai struktur lagu pop yaitu A - A - B - A atau juga A -  B - C - D dangan jumlah 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang terkenal di  tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008): Yen Ing Tawang Ana  Lintang (Tawang dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa" title="Bahasa Jawa"&gt;Bahasa Jawa&lt;/a&gt; berarti: awang-awang, langit, dan makna lain nama suatu desa di Magetan, &lt;i&gt;Kalau di Langit Ada Bintang&lt;/i&gt;). Langgam Jawa menjadi terkenal oleh &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Waljinah" title="Waljinah"&gt;Waljinah&lt;/a&gt; yang pernah sebagai juara tingkat sekolah SMP di RRI Solo tahun 1958.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=15" title="Sunting bagian: Keroncong Beat"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Keroncong_Beat"&gt;Keroncong Beat&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar pimpinan Rudy Pirngadie, di Jakarta  pada tahun 1959 dan bisa mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih  bersifat universal). Pada waktu itu Idris Sardi ikut tur ke New York  World's Fair &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt; dengan biola tahun 1964 dengan maksud mau memperkenalkan lagu pop barat (&lt;i&gt;I left my heart in San Fransico&lt;/i&gt;,  pada waktu itu tahun 1964 lagu ini merupakan salah satu hit di dunia)  dengan iringan keroncong beat, namun dia kena denda melanggar &lt;b&gt;hak cipta&lt;/b&gt; akibat tanpa izin.&lt;br /&gt;Dengan Keroncong Beat maka berbagai lagu (bukan dengan rangkaian  harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) dapat dinyanyikan seperti La  Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=16" title="Sunting bagian: Campur Sari"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Campur_Sari"&gt;Campur Sari&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) pada tahun 1968 &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Manthous&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Manthous (halaman belum tersedia)"&gt;Manthous&lt;/a&gt; memperkenalkan gabungan alat gamelan dan musik keroncong, yang kemudian dikenal sebagai Campursari. Kini daerah &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Solo" title="Solo"&gt;Solo&lt;/a&gt;, &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sragen" title="Sragen"&gt;Sragen&lt;/a&gt;, &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ngawi" title="Ngawi"&gt;Ngawi&lt;/a&gt;, dan sekitarnya, terkenal sebagai pusat para artis musik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Campursari" title="Campursari"&gt;campursari&lt;/a&gt;. Bahkan Bupati &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sukoharjo" title="Sukoharjo"&gt;Sukoharjo&lt;/a&gt; ikut meramaikan bursa campursari.&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=17" title="Sunting bagian: Keroncong Koes-Plus"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Keroncong_Koes-Plus"&gt;Keroncong Koes-Plus&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Koes_Plus" title="Koes Plus"&gt;Koes Plus&lt;/a&gt;  dikenal sebagai perintis musik rock di Indonesia, pada sekitar tahun  1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan  adalah Keroncong Koes Plus dengan struktur bentuk campuran (dalam bahasa  Belanda disebut Meng-vorm atau Inggris Combine form) antara Stambul II  dan langgam Keroncong.&lt;br /&gt;Seandainya band rock Indonesia bisa mengikuti jejak Koes-Plus untuk  melestarikan budaya sendiri seperti keroncong, maka betapa indah musik  rock Indonesia dapat ngetop dengan irama kampung halaman, berarti &lt;b&gt;musik keroncong jangan mati&lt;/b&gt; (ucapan Gesang). Mudah-mudahan Mbah, generasi muda Indonesia dapat melanjutkan musik keroncong .&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=18" title="Sunting bagian: Keroncong Dangdut (Congdut)"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Keroncong_Dangdut_.28Congdut.29"&gt;Keroncong Dangdut (Congdut)&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;Keroncong dangdut (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Congdut" title="Congdut"&gt;Congdut&lt;/a&gt;) adalah jawaban atas derasnya pengaruh musik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dangdut" title="Dangdut"&gt;dangdut&lt;/a&gt;  dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring dengan  menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah  musisi, konon dimulai dari &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surakarta" title="Surakarta"&gt;Surakarta&lt;/a&gt;, memasukkan unsur &lt;i&gt;beat&lt;/i&gt; dangdut ke dalam lagu-lagu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Langgam_Jawa" title="Langgam Jawa"&gt;langgam Jawa&lt;/a&gt; klasik maupun baru. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Didi_Kempot" title="Didi Kempot"&gt;Didi Kempot&lt;/a&gt; adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang terkenal antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Masa Kejayaan&lt;/b&gt; Musik Keroncong. Pada Masa Keroncong Modern  adalah Masa Kejayaan Musik Keroncong, di mana terdengar di mana-mana  musik Langgam Jawa, Keroncong Beat, Campursari, koes Plus dan terakhir  dengan Congdut dari Didi Kempot, hingga ke Suriname dan Belanda  (2004-2008). Rupa-rupanya ini merupakan puncak kejayaan Musik Keroncong,  sehingga Gesang khawatir bahwa Keroncong Akan Mati (2008, ucapan beliau  sebelum wafat).&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=19" title="Sunting bagian: Masa keroncong millenium (2000-kini)"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Masa_keroncong_millenium_.282000-kini.29"&gt;Masa keroncong millenium (2000-kini)&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Walaupun musik keroncong di era millenium (tahun 2000-an) belum  menjadi bagian dari industri musik pop Indonesia, tetapi beberapa pihak  masih mengapresiasi musik keroncong. Kelompok musik Keroncong Merah  Putih&lt;sup class="reference" id="cite_ref-4"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#cite_note-4"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;, kelompok keroncong berbasis Bandung masih cukup aktif melakukan pertunjukan. Selain itu, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bondan_Prakoso" title="Bondan Prakoso"&gt;Bondan Prakoso&lt;/a&gt;  dan grupnya Bondan Prakoso &amp;amp; Fade 2 Black, menciptakan komposisi  berjudul "Keroncong Bondol" yang berhasil memadukan musik gaya rap  dengan musik latar belakang irama keroncong. Di tahun 2008 @ Solo  International Keroncong Festival, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Harmony_Chinese_Music_Group" title="Harmony Chinese Music Group"&gt;Harmony Chinese Music Group&lt;/a&gt; membuat suasana lain dengan memasukan unsur alat musik tradisional Tionghoa dan menamainya sebagai Keroncong Mandarin &lt;sup class="reference" id="cite_ref-5"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong#cite_note-5"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=20" title="Sunting bagian: Tokoh keroncong"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Tokoh_keroncong"&gt;Tokoh keroncong&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gesang" title="Gesang"&gt;Gesang&lt;/a&gt;. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang" title="Jepang"&gt;Jepang&lt;/a&gt;  karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu  lagunya yang paling terkenal adalah(lagu)|Bengawan Solo. Lantaran  pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki "Buaya Keroncong" oleh insan  keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong. Gesang  menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang  di Jakarta (Tugu , Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat;  sedangkan setelah pusat perkembangan pindah ke Solo (MASA KERONCONG  ABADI: 1920-1960) iramanya menjadi lebih lambat.&lt;br /&gt;Asal muasal sebutan "Buaya Keroncong" untuk Gesang berkisar pada lagu ciptaannya, "Bengawan Solo". &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bengawan_Solo" title="Bengawan Solo"&gt;Bengawan Solo&lt;/a&gt; adalah nama sungai yang berada di wilayah Surakarta. Seperti diketahui, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya" title="Buaya"&gt;buaya&lt;/a&gt; memiliki habitat di rawa dan sungai. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Reptil" title="Reptil"&gt;Reptil&lt;/a&gt;  terbesar itu di habitanya nyaris tak terkalahkan, karena menjadi  pemangsa yang ganas. Pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa  Gesang disebut sebagai "Buaya Keroncong".&lt;br /&gt;Di sisi lain nama &lt;i&gt;Anjar Any&lt;/i&gt; (Solo, pencipta Langgam Jawa lebih  dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga mempunyai andil dalam  keroncong untuk Langgam Jawa beserta &lt;i&gt;Waljinah&lt;/i&gt; (Solo), sedangkan &lt;i&gt;R. Pirngadie&lt;/i&gt; (Jakarta) untuk Keroncong Beat, &lt;i&gt;Manthous&lt;/i&gt; (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan &lt;i&gt;Koe Plus&lt;/i&gt; (Solo/Jakarta) untuk Keroncong Rock, serta &lt;i&gt;Didi Kempot&lt;/i&gt; (Ngawi) untuk Congdut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6912150852758031258-3979006075742698711?l=usamusic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://usamusic.blogspot.com/feeds/3979006075742698711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/2011/08/keroncong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default/3979006075742698711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default/3979006075742698711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/2011/08/keroncong.html' title='Keroncong'/><author><name>usamusic</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09311628297504215709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6912150852758031258.post-4197829829463434816</id><published>2011-08-17T19:57:00.001-07:00</published><updated>2011-08-17T19:57:45.822-07:00</updated><title type='text'>Mengamati Perkembangan Musik Indonesia : Dua Sisi</title><content type='html'>&lt;div class="entrytext"&gt; 				&lt;h3 class="entry-header"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="entry-content"&gt; &lt;div class="entry-body"&gt; &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://fajarjazz.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/pianoforte_3_tasti_.gif"&gt;&lt;img alt="Pianoforte_3_tasti_" border="0" height="65" src="http://fajarjazz.blogs.friendster.com/fajarjazz/images/pianoforte_3_tasti_.gif" style="float: right; margin: 0 0 5px 5px;" width="100" /&gt;&lt;/a&gt;  Pada Majalah Rolling Stones Indonesia edisi terakhir tahun 2007,  memberikan judul 150 album terbaik Indonesia. Sejenak judul itu  merefleksikan album-album apa saja yang menurut survuei dan interpretasi  (mereka saja?) tentang album-album yang memunyai kualitas diatas  rata-rata dan telah memberi pengaruh terhadap perkembangan musik  Indonesia hingga sekarang. Lalu, pada hampir di halaman terakhir ada  rubrik yang cukup membuat kita menjadi terpingkal. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Betapa  tidak, halaman tersebut berisi tentang tiga album terburuk tahun 2007.  Isinya antara lain, album OST BBB (Bukan Bintang Biasa), Kangen Band  (Tentang Aku, Engkau, dan Dia), dan terakhir album The Rock (Mister  Master Ahmad Dhani). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah  membaca artikel tersebut, saya bingung dan bertanya dalam hati, ”apakah  album mereka sampai segitu jeleknya (juga buruk) sampai diberikan  predikat tersebut?”. Tapi bagi saya butuh seribu alasan dan seribu bukti  untuk memverifikasi &lt;em&gt;judgement &lt;/em&gt;”terburuk” terhadap tiga karya musik tersebut.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam  pikiran saya, memang ada standar baku terhadap sebuah karya musik?  Sehingga seorang pelaku resensi album dengan seenaknya memberikan label  tersebut? Tidak sesuperficial itu juga , &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt;. Pastinya mereka memiliki segudang alasan dan pastinya segudang bukti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sejak  itu saya semakin tertarik untuk mengobservasi lebih dalam lagi tentang  progres musik indonesia kira-kira satu setengah tahun ini. Untuk tiga  album di atas, saya lebih perhatikan lagi komposisi musiknya dan mulai  membaca artikel-artikel tentang mereka. Tentang Kangen Band, saya jadi  tertarik dengan mereka. Coba Anda bayangkan, hampir semua orang  teman-teman saya memperolokkan band tersebut. Mereka bilang band  kampungan, musiknya &lt;em&gt;menye-menye-&lt;/em&gt;lah, tidak berkuakitaslah, dan segudang hujatan lainnya kepada mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Tapi  apa yang terjadi? Mereka semakin populer saja. Di TV saja, seperti  dalam acara-acara musik ataupun non musik yang menghadirkan band, nama  mereka semakin ”ada” saja. Bahkan beberapa bulan yang lalu, Metro TV  dalam acara Kick Andy, acara tersebut dengan sengaja mengangkat kisah  perjalanan kesuksesan karier mereka yang dimulai dari bawah. Alhasil,  acara tersebut menuai protes yang tidak sedikit terhadap saluran  televisi swasta tersebut. Bahkan, dalam album perdana duo T2 (salah satu  personilnya ”Tiwi AFI”), dengan hits pertama mereka yang berjudul  ”Lelaki Cadangan” itu ternyata karangan gitaris Kangen Band. Setelah  mendapatkan dan mendengarkan rekaman lagu tersebut, saya justru kaget  karena komposisi dan konfigurasi kordnya hampir mirip dengan lagu-lagu  Melly Goeslaw (awalnya sebelum &lt;em&gt;notice&lt;/em&gt; kalau itu lagu karangannya dia, saya menyangka lagu tersebut dikarang oleh Melly). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Agar  tidak bias, saya sengaja mendengarkan satu album mereka. Hasilnya,  kalau boleh memberi bintang satu sampai lima, saya akan memberi satu  setengah. Secara komposisi, terlihat biasa. Walapun ada beberapa yang  balada, dan ternyata juga sudah menjadi hits mereka di media-media. Tapi  logikanya, apakah pantas kita melabel mereka sebagai pendatang dengan  album terburuk dengan menyalahkan komposisi mereka yang mengimpresikan  ke-menye-menye-an, sementara hampir semua band yang berkarya akhir-akhir  ini juga menampilkan hal yang sama? Kalau begitu kita juga bisa  menyalahkan &lt;em&gt;influences &lt;/em&gt;mereka yag sebelum-sebelumnya, &lt;em&gt;dong&lt;/em&gt;?&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Jujur  saja, saya juga agak kurang sreg dengan perkembangan musik Indonesia  akhir-akhir ini. Karena tuntutan industri musik yang sangat mementingkan  komersialitas dan mementingkan konformitas, justru membuat mereka itu  menjadi (sengaja) stagnant dalam memproduksi ide-ide yang kreatif.  Mereka juga masih terpaku dan berjalan di jalur yang aman. Apa takut  ditinggal penggemar atau ditinggal label rekaman yang menfasilitasi  mereka? Apa kita juga perlu mendidik penggemar yang notabene juga pelaku  industri musik dengan mengajarkan bahwa suatu perubahan dan kreativitas  adalah lebih baik? &lt;em&gt;Absurd&lt;/em&gt; juga, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://fajarjazz.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/1_bigtre_1.gif"&gt;&lt;img alt="1_bigtre_1" border="0" height="98" src="http://fajarjazz.blogs.friendster.com/fajarjazz/images/1_bigtre_1.gif" style="float: right; margin: 0 0 5px 5px;" width="100" /&gt;&lt;/a&gt;  Lalu tentang album OST. Bukan Bintang Biasa, tidak kalah dihujat juga.  Banyak pengamat musik menilai bahwa ini adalah degenerasi seorang  brilian Melly. Melly yang selama ini menghasikan album-album yang  terbilang sukses namun bagi saya cita rasanya sama hanya &lt;em&gt;packaging-&lt;/em&gt;nya  saja yang berbeda. Coba Anda perhatikan, sejak album OST Ada Apa Dengan  Cinta, dan dilanjutkan dengan OST Eiffel I’m Love hingga OST BBB ini,  Melly suka sekali bereksperimen dengan orang-orang (baca: penyanyi) yang  terbilang baru di industri musik Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Memang  tidak salah ketika kita bereksperimen dengan sesuatu yang baru, tapi  ketika dihadapkan dengan album OST. BBB ini, tampaknya Melly menuai  kritikan dan protes karena telah salah dengan mengajak artis-artis  pendukung OST ini kepada orang-orang yang katanya ”tidak bisa nyanyi  sama sekali”. Alhasill kualitas album (kecuali musik dari instrumen)  terlihat sangat standar dan terkesan dipaksakan. Saya hanya bisa  tersenyum, karena bagaimanapun juga Melly pasti memunyai pertimbangan  lain tentang ini dan juga seperti anekdot yang sering kita dengar  ”penonton sangat pandai sekali menilai”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Satu  lagi album terburuk tahun 2007, adalah album The Rock. Dalam majalah  Rolling Stone Indonesia dan majalah Hai, tidak sedikit setiap tulisan  yang berkaitan dengan Ahmad Dhani dan pastinya dengan The Rock-nya ini  disinggung-singgung sebagai antiklimaks dari perjalanan dan kualitas  musik seorang Dhani. Terlebih ketika disinggung single pertamanya yang  berjudul ”Munajat Cinta” itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Ada  yang berpendapat Dhani sekarang sudah tidak mampu lagi menciptakan  karya-karya fenomenal seperti yang dilakukannya pada album-album Dewa  ”Pandawa Lima” dan Ahmad Band atau seperti dia membantu Reza Artamevia  dulu. Tidak hanya itu, dalam album The Rock tersebut hanya memuat tiga  lagu baru saja. Yang lain, hanyalah &lt;em&gt;repackaging&lt;/em&gt; dari  masterpiece Dhani dulu. Hanya arransemennya saja yang berbeda. Bahkan  yang lebih kontrasnya, band yang bernama The Rock ini terlihat seperti  akan memainkan musik-musik rock. Tapi yang terjadi, terdapat dua lagu  yang bernuansa swing jazz. Paradoks? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Untungnya  reporter Hai segera menemui serta mewawancarai Dhani di tengah  kesibukannya dan terangkum dalam tulisan artikel di majalah Hai. Apa  advokasi dan argument seorang Dhani? Bagi dia, ketika membuat lagu  Munajat Cinta tersebut, dia terinspirasi dari Matta Band (yang  memopulerkan hits ”Ketahuan”) dimana dia berniat membuat lagu yang  memunyai melodi yang &lt;em&gt;easy to catch&lt;/em&gt; dan hal itu dilakukannya. Walau dicerca, lagu tersebut justru sering diputar di media-media hiburan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Lalu ketika ditanyai tentang menyelipnya dua lagu bernuansa swing itu, Dhani memjawab bahwa dia sudah lama &lt;em&gt;kebelet&lt;/em&gt;  ingin membuat album swing (atau terinspirasi dari OST. Rumah  Ketujuh-nya Indra Lesmana yang sangat kental dengan big band jazz dan  swing jazz-nya?). Jadi dua lagu tersebut sengaja dipasang juga dengan  intensi agar para &lt;em&gt;indonesian music listeners&lt;/em&gt;, dapat &lt;em&gt;familiar &lt;/em&gt;dengan  musik swing. Dhani pun menjelaskan bahwa dia sedang tidak ingin membuat  lagu banyak pada album ini dengan alasan sedang malas dan juga ingin  kembali mengenalkan musik-musik yang pernah dia karang dulu kepada&lt;em&gt; listeners &lt;/em&gt;baru musik Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;a href="http://fajarjazz.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/hp.jpg"&gt;&lt;img alt="Hp" border="0" height="70" src="http://fajarjazz.blogs.friendster.com/fajarjazz/images/hp.jpg" style="float: left; margin: 0 5px 5px 0;" width="100" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Ya,  itu terserah dia. Tidak bisa disalahkan juga. Menurut saya Dhani adalah  seorang yang sangat cerdas di musik. Talenta dan kapabilitas dia dalam  mengarang dan mengaransemen musik yang dia miliki adalah sesuatu yang  tidak semua orang bisa miliki. Para musisi juga berkarya dalam di  industri musik mau tak mau harus bisa mengikuti arus pasar. Bisa juga  dikatakan kesuksesan seorang artis musik ditentukan sejauh mana karya  mereka diterima oleh pasar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Kembali  menyikapi arus perkembangan yang sangat kompetitif ini memaksa para  musisi harus berlomba memberikan karya terbaik mereka. Ya, semua  berkompetisi di bidangnya masing-masing. Ada yang di jalur major label  dan ada yang tetap loyal dengan indie label mereka. Toh mereka juga  punya pangsa pasar yang sudah terdiferensiasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Dalam  tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan bahwa seseorang berhak  menilai sesuatu dengan sudut pandang dia sendiri. Tapi ingat juga, bahwa  ternyata hal yang kita pandang itu memunyai persepsi yang berbeda  tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Walaupun memunyai sudut  pandang yang berbeda, bukankah kita hendaknya juga tetap menghargai apa  yang dihasilkan orang lain?. Terlepas kita suka atau tidak. Lagipula  cara menghargai sesuatu kan tidak harus dengan memiliki dan memujinya,  tapi sekadar sebuah senyuman dan beberapa kali tepukan tangan saya rasa  itu sudah cukup. Karena Anda pun belum tentu bisa seperti mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"&gt;&lt;div class="sd-block sd-like" id="wpl-likebox"&gt;&lt;div class="sd-content"&gt;&lt;div id="wpl-button"&gt;&lt;a class="like needs-login sd-button" href="http://setyobd88.wordpress.com/2008/08/29/perkembangan-musik-indonesia/?like=1&amp;amp;_wpnonce=703b8bf9f3" rel="nofollow" title="I like this post"&gt;&lt;span&gt;Like&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="sd-like-count" id="wpl-count"&gt;Be the first to like this post.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="authormeta"&gt;~ by setyobd88 on August 29, 2008.&lt;/div&gt;&lt;div class="postmetadata"&gt;Posted in &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/musik-anak-negeri/" rel="category tag" title="View all posts in musik anak negeri"&gt;musik anak negeri&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/perkembangan-musik/" rel="category tag" title="View all posts in perkembangan musik"&gt;perkembangan musik&lt;/a&gt;									&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3&gt;2 Responses to “Perkembangan Musik&amp;nbsp;Indonesia”&lt;/h3&gt;Artikelnya menarik bos. Iya nih saya juga merasa sedih benget ama  perkembangan musik Indonesia sekarang. Benchmarknya salah satunya adalah  Kangen Band. Baru pertama kali ini saya liat band dengan kualitas musik  yg minim bisa sukses di pasar musik Indonesia. Coba bandingin waktu  tahun2 80-an atau 90-an keatas. Jujur jg, saya adalah orang yg pro pada  teknikalitas dalam bermusik. Artinya, membuat musik tidak boleh asal2an  alias harus memiliki palind sedikit teknik bermusik yg memadai. So,  bravo musik Indonesia. (from &lt;a href="http://www.bettacbr.blogspot.com/" rel="nofollow"&gt;http://www.bettacbr.blogspot.com&lt;/a&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6912150852758031258-4197829829463434816?l=usamusic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://usamusic.blogspot.com/feeds/4197829829463434816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/2011/08/mengamati-perkembangan-musik-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default/4197829829463434816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6912150852758031258/posts/default/4197829829463434816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://usamusic.blogspot.com/2011/08/mengamati-perkembangan-musik-indonesia.html' title='Mengamati Perkembangan Musik Indonesia : Dua Sisi'/><author><name>usamusic</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09311628297504215709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
